<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bugil Memek Ngentot</title>
	<atom:link href="http://bugilgila.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bugilgila.com</link>
	<description>Cewek Bugil Memek Perawan Ngentot di bugilgila.com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Aug 2010 17:32:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tante Girang Mupeng Ibu Kosan</title>
		<link>http://bugilgila.com/tante-girang/tante-girang-mupeng-ibu-kosan.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/tante-girang/tante-girang-mupeng-ibu-kosan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 17:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kos genit]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kos nakal]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan ibu kos]]></category>
		<category><![CDATA[tante binal]]></category>
		<category><![CDATA[tante jablay]]></category>
		<category><![CDATA[tante mupeng]]></category>
		<category><![CDATA[tante nakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Beruntng banget bisa tinggal di tempat kos yang banyak cewek cantiknya, jadi bisa cuci mata tiap hari. Tapi sayangnya sering sakit hati seh hampir setiap cewek udah menggandeng cowok, tajir-tajir lagi. Tpi rasa bete itu hilang saat ibu kos yang ga kalah seksi dan manis menaruh rasa kepadaku. Tante nakal ini sudah terbaca saat awal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beruntng banget bisa tinggal di tempat kos yang banyak cewek cantiknya, jadi bisa cuci mata tiap hari. Tapi sayangnya sering sakit hati seh hampir setiap cewek udah menggandeng cowok, tajir-tajir lagi. Tpi rasa bete itu hilang saat ibu kos yang ga kalah seksi dan manis menaruh rasa kepadaku. Tante nakal ini sudah terbaca saat awal tinggal disana. </p>
<p>Tante sering membuat beraneka alasan agar aku bisa masuk ke rumahnya. pasangin lampu kek, pijetin kek, ini itu pokoknya agar bisa ketemu aku. Karena seringnya berkomunikasi dengan si tante, gw jadinya memiliki hubungan rahasia dengan si tante. Ibu kos ni rupanya memang kesepian, disaat suaminya kerja di hotel luar negeri di negeri paman sam sana. Tubuh seksi si tante jablay ini pun menjadi makanan empuk bagi nafsu mudaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/tante-girang/tante-girang-mupeng-ibu-kosan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tubuh Seksi Majikanku</title>
		<link>http://bugilgila.com/cerita-seks/tubuh-seksi-majikanku.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cerita-seks/tubuh-seksi-majikanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 18:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[kontol majikan]]></category>
		<category><![CDATA[memek pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot dengan majikan]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot dengan pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu binal]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu nakal]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dnegan majikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini tentu saja menjadi rahasiaku bertahun-tahun dan tidak ada seorang pun yang tahu. Namun aku akhirnya ga bisa lama-lama menutupi semuanya. Aku merindukan masa-masa itu. Pria idaman yang memberiku kenikmatan seks luar biasa dengan tubuh atletisnya.
Saat itu aku memang masih gadis desa yang baru saja ke kota. Kota yang menjadi tujuanku adalah Cianjur. Kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini tentu saja menjadi rahasiaku bertahun-tahun dan tidak ada seorang pun yang tahu. Namun aku akhirnya ga bisa lama-lama menutupi semuanya. Aku merindukan masa-masa itu. Pria idaman yang memberiku <strong>kenikmatan seks</strong> luar biasa dengan tubuh atletisnya.</p>
<p>Saat itu aku memang masih gadis desa yang baru saja ke kota. Kota yang menjadi tujuanku adalah Cianjur. Kota yang memang belum terlalu berkembang, namun kupikir aku akan betah. <span id="more-83"></span>Aku tak tentu tujuan, tapi akhirnya aku memilih menjadi seorang pembantu rumah tangga. Kudapatkan pekerjaan itu di sebuah rumah yang memang tidak terlalu besar. Majikanku itu memang sudah menikah dan punya anak. Ia berprofesi sebagai seorang guru olahraga di SD. Tapi mungkin karena rumah yang ditempati mereka bertiga kurang besar, ditambah lagi ibu majikanku itu sudah tua, maka istri dan anaknya yang masih kecil itu tinggal di rumah terpisah bersama ibu majikanku. Aku berhasil mendapat pekerjaan ini memang karena bagaimana pun seorang pria tentu sulit merawat rumah sendirian, karena istrinya itu memang jarang datang berkunjung (entah bagaimana kehidupan seks mereka itu).</p>
<p>Singkatnya inilah awal perkenalanku:<br />
Aku melangkah masuk ke rumah itu. Bu Titin, mempersilakanku masuk. Ia tampaknya setuju jika aku bekerja di rumah suaminya itu. Setelah berbincang beberapa saat, suaminya pulang. Dan saat itulah aku melihat suami Bu Titin. Dia pun melihat ke arahku. Oh Tuhan, suaminya benar-benar tampan dan seksi. Mungkin karena ia adalah seorang guru olahraga. Pantas saja ia menjaga bentuk tubuhnya itu.<br />
&#8220;Tin, siapa dia? Pembantu buatku yang baru ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya, Mas. Aku bingung cari-cari, eh akhirnya ketemu juga,&#8221; kata Bu Titin.<br />
&#8220;Lastri, perkenalkan ini suamiku, Yayan.&#8221;<br />
&#8220;Lastri Pak,&#8221; kataku malu-malu.<br />
Aku benar-benar terpesona oleh penampilannya itu. Ditambah lagi saat itu dia seperti mandi keringat. Benar-benar bau kejantanannya membuatku bergairah.<br />
&#8220;Yayan,&#8221; katanya sambil menjulurkan tangannya yang kekar itu padaku.</p>
<p>Singkatnya, aku telah 2 minggu bekerja di rumah Mas Yayan. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi pembantu Mas Yayan. Ia tipe pria idamanku. Aku pun merasa beruntung pula karena Bu Titin memang tidak pernah tinggal satu rumah bersama Mas Yayan seperti yang sudah kutuliskan tadi. Paling-paling hari Sabtu Bu Titin datang berkunjung dengan anaknya. Setelah itu pulang lagi. Jika Mas Yayan sudah berangkat, aku sering masuk ke kamarnya. Kuperhatikan selama ini, ia selalu memakai baju-baju ketat dan celana pendek yang super ketat yang sangat seksi menonjolkan otot-otot tubuhnya. Aku ingin tahu, apakah baju-baju seperti itu yang menjadi kegemarannya, soalnya setiap kali bajunya kucuci, aku cuma mencuci baju-baju seperti itu. Dan benarlah, semua jenis bajunya memang seperti itu. Kadang-kadang aku juga sering melihat album fotonya, dan ya ampun! ada sebuah album foto yang disimpannya di bawah tempat tidur. Album itu kutemukan tak sengaja waktu aku hendak mengganti sepreinya. Kurasa album itu dirahasiakan olehnya, soalnya foto-fotonya benar-benar super erotis. Bagaimana tidak, ia berpose bertelanjang bulat tanpa memakai pakaian sehelai pun di setiap foto-fotonya. Langsung saja gairahku memuncak melihatnya. Oh Mas Yayan, aku ingin sekali melihatmu bukan hanya di foto seperti ini!</p>
<p>Setiap kali mencuci bajunya, aku tak langsung mencucinya. Kadang kudekap rapat-rapat baju dan celananya itu. Apalagi yang basah karena keringatnya. Oh benar-benar jantan. Lalu celana dalamnya pun sering kucium dan kujilati. Kadang jika beruntung, kutemukan bulu-bulu kemaluannya tertinggal di celana dalamnya.</p>
<p>Tiba suatu hari, datanglah keberuntunganku. Mas Yayan waktu itu pulang agak sore. Ia memakai kaos ketat berwarna putih yang benar-benar seksi ditambah celana street yang memperlihatkan pahanya yang kekar dan berbulu itu.<br />
&#8220;Darimana Mas?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Oh aku dari tempat fitness,&#8221; katanya sambil masuk ke kamar tidurnya.<br />
&#8220;Ehm.. pantas aja Mas badannya sangat bagus,&#8221; kataku malu-malu.<br />
Mas Yayan terdiam sejenak. Lantas ia memandangku.<br />
&#8220;Memangnya kamu senang melihat tubuhku ini?&#8221;<br />
&#8220;Ya tentu Mas. Sejak pertama kali kita kenalan, aku langsung mengagumi Mas,&#8221; kataku mantap.<br />
&#8220;Kalau boleh aku tahu, bagian mana dari tubuhku yang kamu suka, Lastri?&#8221;<br />
&#8220;Aku suka lengan Mas yang kekar dan dada Mas yang bidang. Aku kadang suka jengah loh Mas kalau melihat Mas melepas pakaian Mas. Kadang aku ingin sekali menyentuhnya. Maaf Mas kalau aku lancang.&#8221;<br />
Ia tersenyum, &#8220;Wah nggak nyangka, aku punya pengagum.&#8221;<br />
&#8220;Mas kelihatannya lelah. Boleh aku pijetin?&#8221;<br />
&#8220;Boleh, kamu pijetin aku sambil nonton film asyik.&#8221;</p>
<p>Ia pun segera mengambil sebuah VCD dan menyalakan TV. Lalu ia memasangnya. Tak berapa lama, di layar muncul film erotis. Oh aku makin bergairah. Ia tersenyum lagi memandangku. &#8220;Ayo kamu naik ke tempat tidurku. Pijati badanku yang pegal-pegal ini.&#8221; Aku benar-benar menikmati sensasi itu. Sambil tanganku memegang-megang tubuh pria yang selama ini jadi obsesiku, aku nonton film seperti itu. Terus terang aku baru pertama kali melihat film yang begituan.</p>
<p>Setelah film selesai, Mas Yayan mematikan televisi. Ia lantas berkata,<br />
&#8220;Kamu benar &#8211; benar cantik. Terus terang aku ingin sekali kita bisa seperti ini sejak kita ketemu.&#8221;<br />
&#8220;Ah Mas bisa aja.&#8221;<br />
Lantas Mas Yayan menarik kaos ketat yang membungkus rapat tubuhnya itu. Dan terlihatlah oleh mataku, tubuh seksi berotot dan berkeringat yang selama ini aku impikan.<br />
&#8220;Oh,&#8221; desahku.<br />
&#8220;Gimana? Kalau mau pegang, pegang aja.&#8221;<br />
Langsung saja kupegang lengan-lengannya yang kekar itu. Dadanya yang bidang dan perutnya yang seksi. Mataku langsung tertuju kepada puting susunya. Berbulu sangat lebat sekali, membuatku makin dan makin bergairah.<br />
&#8220;Ah.. ah..&#8221; katanya begitu kupegang dadanya itu.<br />
&#8220;Lastri, aku.. aku.. sudah lama tidak merasakan seperti ini bersama istriku.&#8221;</p>
<p>Mas Yayan lalu menarikku ke depan tubuhnya, &#8220;Lepas bajumu!&#8221; katanya singkat. Lalu kutelanjangi diriku sepenuhnya. Kudengar decak kagumnya melihat tubuhku yang memang sintal dan aduhai ini. &#8220;Las, kamu.. kamu..&#8221; Ia langsung menjilati wajahku dan kami pun berciuman lama sekali. Bibirnya begitu seksi dan lidahnya pintar sekali bergoyang-goyang. Sesekali kumisnya yang cukup tebal itu menyentuh lidahku. &#8220;Las, jilati seluruh tubuhku yang berkeringat ini!&#8221; Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung kujilati dadanya yang bidang itu. Puting susunya yang menjadi tujuan utamaku. Ah benar-benar nikmat rasanya. Lidahku mempermainkan putingnya itu. Kuhisap-hisap dan rasanya enak. Bulu-bulu putingnya itu kukulum berkali-kali hingga kudengar erangannya. Kujilat dan kujilat lagi hingga puas. Setelah itu kujilat bagian tubuhnya yang lain. Dari otot lengannya, ketiaknya yang juga penuh dengan bulu-bulu, perutnya, dan kuperosotkan celananya. Ternyata ia masih memakai celana dalam dan penisnya sudah tegang berat.</p>
<p>Aku tidak membuka celana dalamnya dulu. Biar kupanjangkan waktu yang menggairahkan ini. Kujilati pahanya, kakinya, hingga punggung dan pantatnya. Kujilati hingga tubuhnya benar-benar sudah terlumat oleh lidahku. Ia mengerang-ngerang tak kuat menahan gairah. Aku lalu menarik celana dalamnya keluar. &#8220;Las, kulum tititku ini!&#8221; desahnya tak teratur. Aku tidak terkejut, dugaanku selama ini benar. Batang kemaluannya itu panjang sekali. Mungkin mencapai 25 cm. Di sekelilingnya ditutupi bulu-bulu kemaluan yang rimbun sekali. Aku lantas menjilat-jilat kepalanya yang sudah keras sekali itu. Kumasukkan ke dalam mulutku dan kutarik keluar lagi. Begitu seirama dengan jari-jariku meraba puttng susunya. Ia benar-benar kegirangan.</p>
<p>Setelah cukup lama aku menikmati penisnya itu, ia pun orgasme. Spermanya sangat banyak sekali. Muncrat langsung ke wajahku. Tak kusia-siakan, kujilati semuanya dan kutelan habis. Ia lagi-lagi tersenyum padaku. Oh pria impianku. Tak berapa lama, ia lalu melumat habis seluruh tubuhku. Payudaraku dijamah dan diremas-remas oleh lengannya itu. Setelah puas menjilatinya, ia pun menjilati vaginaku yang masih perawan. Lalu adegan bersenggama pun dimulai. Penisnya masuk ke dalam vaginaku. Ah benar-benar nikmat. Darah keperawananku keluar. Itu telah menjadi miliknya. Ia benar-benar hebat. Kami mencoba berbagai cara hingga ia dan aku mencapai puncak orgasme berkali-kali. Kami terus dan terus melakukannya hingga tak sadar waktu sudah tengah malam. Kami benar-benar puas.</p>
<p>Akhirnya sejak hari itu, hampir setiap hari aku melakukannya dengan Mas Yayan. Aku tidak lagi tidur di kamar pembantu yang disediakan untukku. Aku selalu tidur di kamarnya, di sampingnya. Aku sadar tugasku sebagai pembantu adalah melayani kebutuhan Mas Yayan apapun yang dia inginkan. </p>
<p>Namun kini semua hanya tinggal kenangan, aku berhenti bekerja sejak 2 tahun yang lalu. Pamanku yang usahanya sedang naik daun menginginkan aku untuk membantu operasionalnya di kantor, meskipun aku pernah menjadi PRT, namun otakku masih bisa bersaing.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cerita-seks/tubuh-seksi-majikanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Toket Gede Ayam Kampus</title>
		<link>http://bugilgila.com/toket-gede/foto-toket-gede-ayam-kampus.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/toket-gede/foto-toket-gede-ayam-kampus.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 12:42:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mahasiswi Bugil]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[seks bebas]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[toket mahasiswi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[
Foto toket mahasiswi cantik dan seksi lagi nafsu butuh kepuasan dan hotel dekat club malam itu menjadi tempat senggama ayam kampus yang terkenal dengan toket gedenya bersama pacar gelapnya. Diketahui cewek ini udah dilamar oleh pengusaha muda di kotanya, namun kebiasaannya bergaul bebas dan sering ngeseks dengan cowok yg dia sukai bukan dia cintai hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img7.uploadhouse.com/fileuploads/5683/56833987e87c99a0f7a8732bb375fc3c3f69ea6.jpg" alt="toket ayam kampus " width="200" height="300" /></p>
<p><strong>Foto toket mahasiswi cantik</strong> dan seksi lagi nafsu butuh kepuasan dan hotel dekat club malam itu menjadi tempat senggama ayam kampus yang terkenal dengan toket gedenya bersama pacar gelapnya. Diketahui cewek ini udah dilamar oleh pengusaha muda di kotanya, namun kebiasaannya bergaul bebas dan sering ngeseks dengan cowok yg dia sukai bukan dia cintai hanya demi kepentingan kepuasan seks semata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/toket-gede/foto-toket-gede-ayam-kampus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpacu Dalam Pesta Seks</title>
		<link>http://bugilgila.com/cerita-seks/berpacu-dalam-pesta-seks.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cerita-seks/berpacu-dalam-pesta-seks.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 20:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[memek ngentot seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot bareng]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot memek bertiga]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot vagina]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks dengan gigolo]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks di hotel]]></category>
		<category><![CDATA[seks orgy]]></category>
		<category><![CDATA[seks threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini Surabaya menjadi kota tujuanku untu bertemu dengan sobat lama dan tentu saja urusan bisnis. Namun Hendra suamiku tercinta tidak bisa ikut menemani aktivitasku ini.
Dengan ditemani Andi, salah seorang kepercayaanku, kami terbang dengan flight sore supaya bisa istirahat dan besok bisa meeting dalam keadaan fresh dan tidak loyo karena harus bangun pagi pagi buta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini Surabaya menjadi kota tujuanku untu bertemu dengan sobat lama dan tentu saja urusan bisnis. Namun Hendra suamiku tercinta tidak bisa ikut menemani aktivitasku ini.</p>
<p>Dengan ditemani Andi, salah seorang kepercayaanku, kami terbang dengan flight sore supaya bisa istirahat dan besok bisa meeting dalam keadaan fresh dan tidak loyo karena harus bangun pagi pagi buta, mengingat meeting besok aku perkirakan akan berlangsung cukup alot karena menyangkut negosiasi dan kontrak, disamping itu meeting dengan Pak Reza, calon clien, jadwalnya jam 10:00 pagi.<br />
Pukul 19:00 kami check in di Sheraton Hotel, setelah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat.<span id="more-77"></span></p>
<p>Kurendam tubuhku di bathtub dengan air hangat untuk melepas rasa penat setelah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok. Cukup lama aku di kamar mandi hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yang lagi kesepian di rumah, pikirku.</p>
<p>Setelah puas merendam diri, kukeringkan tubuhku dengan handuk menuju ke kamar. Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk tubuhku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaku kelihatan padat dan menantang, cukup attraktif, di usiaku yang 32 tahun pasti orang akan mengira aku masih berumur sekitar 27 tahun.</p>
<p>Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi keduanya tidak ada yang jawab, lalu kuhubungi kamar Andi yang nginap tepat di sebelah, idem ditto. Aku teringat miss call di HP-ku, ternyata si Rio, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia.</p>
<p>&#8220;hallo sayang, tadi telepon ya&#8221; sapaku<br />
&#8220;mbak Lily, ketemu yok, aku udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aku yang nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak&#8221; suara dari ujung merajuk<br />
&#8220;pesta apaan?&#8221;<br />
&#8220;pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Rio, pasti beres, aku jamin mbak&#8221; bujuknya<br />
&#8220;emang berapa orang&#8221; tanyaku penasaran<br />
&#8220;rencanaku sih aku dengan dua temanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Rio deh mbak&#8221;<br />
&#8220;asik juga sih, sayang aku lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aku nanti&#8221;<br />
&#8220;wah sayang juga sih mbak, aku lagi kangen sekarang nih&#8221;<br />
&#8220;simpan saja dulu ya sayang, ntar pasti aku kabari sekembaliku nanti&#8221;<br />
&#8220;baiklah mbak, jangan lupa ya&#8221;<br />
&#8220;aku nggak akan lupa kok sayang, eh kamu punya teman di Surabaya nggak?&#8221; tanyaku ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rencana pestanya Rio.<br />
&#8220;Nah kan bikin pesta di Surabaya&#8221; ada nada kecewa di suaranya<br />
&#8220;gimana punya nggak, aku perlu malam ini saja&#8221;<br />
&#8220;ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?&#8221;<br />
&#8220;kamu tahu kan seleraku, jangan asal ngasih ntar aku kecewa&#8221;<br />
&#8220;garansi deh mbak&#8221;</p>
<p>Kumatikan HP setelah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aku ke lobby sendirian, masih sore, pikirku setelah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam.</p>
<p>Cukup banyak tamu yang makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aku bisa mengamati tamu yang masuk. Ketika menunggu pesanan makanan aku melihat Pak Reza sedang makan bersama seorang temannya, maka kuhampiri dan kusapa dia.</p>
<p>&#8220;malam Bapak, apa kabar?&#8221; sapaku sambil menyalami dia<br />
&#8220;eh Mbak Lily, kapan datang, kenalin ini Pak Edwin buyer kita yang akan meng-export barang kita ke Cina&#8221; sambut Pak Reza, aku menyalami Pak Edwin dengan hangat.<br />
&#8220;silahkan duduk, gabung saja dengan kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok&#8221; kelakar Pak Edwin dengan ramah.<br />
&#8220;terima kasih Pak, wah kebetulan kita bertemu di sini, kan aku nginap di hotel ini&#8221; jawabku lalu duduk bergabung dengan mereka.</p>
<p>Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aku tahu kalau Pak Edwin dan Pak Reza ternyata sobat lama yang selalu berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Reza lebih tua, menurut taksiranku sekitar 45 tahun, sementara Pak Edwin, seorang chinesse, mungkin usianya tidak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. Setelah selesai makan malam, aku pesan red wine kesukaanku, sementara mereka memesan minuman lain yang aku tidak terlalu perhatikan.</p>
<p>&#8220;Bagaimana dengan besok, everything is oke?&#8221; Tanya Pak Reza<br />
&#8220;Untuk Bapak aku siapkan yang spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi&#8221; kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Edwin, si cina ganteng itu.<br />
Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita ngobrol dan entah sudah berapa gelas red wine yang sudah meluncur membasahi tenggorokanku hingga kepalaku agak berat, tak pernah aku minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah menyerangku. Tamu sudah tidak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yang di charge ke kamarku.</p>
<p>Kamipun beranjak hendak pulang ketika tiba tiba kepalaku terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Edwin, Pak Reza sudah duluan pergi ketika Pak Edwin memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aku sendiri sudah diantara sadar dan tidak, ketika Pak Edwin mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membukanya.<br />
Dengan hati hati Pak Edwin merebahkan tubuhku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi tubuhku, aku sudah tak ingat selanjutnya.</p>
<p>Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaku sesak dan ada kegelian bercampur nikmat di antara putingku, kubuka mataku dengan berat dan ternyata Pak Edwin sedang menindih tubuhku sambil mengulumi kedua putingku secara bergantian, tubuhku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Edwin yang hanya memakai celana dalam.</p>
<p>Bukannya berontak setelah kesadaranku timbul tapi malah mendesah kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Edwin yang masih bermain di kedua buah dadaku. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah tubuhku tapi kurasakan vaginaku sudah basah, aku Cuma mendesah desah dalam kenikmatan.</p>
<p>&#8220;sshh.. eehh.. eegghh&#8221; desahku membuat Pak Edwin makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas dengan penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan mengeras di balik celananya, cukup besar pikirku. Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, ternyata penisnya yang tegang tidak sedasyat yang aku bayangkan, meski diameternya besar tapi tidak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan.</p>
<p>Dia kembali menindih tubuhku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan berputar putar di buah dadaku, putingku tak lepas dari jilatannya yang ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, ternyata jilatan di lutut yang tak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan adalah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir vaginaku sambil jari tangannya mulai mengocok vaginaku.</p>
<p>&#8220;sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak&#8221; desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Edwin. Pak Edwin kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaku sambil menyodorkan penisnya, biasanya aku tak mau mengulum penis pada kesempatan pertama, tapi kali ini entah karena masih terrpengaruh alcohol atau karena aku terlalu terangsang, maka kuterima saja penisnya di mulutku. Kupermainkan ujung kepalanya dengan lidah lalu turun ke batang penis, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan penis itu ke dalam mulutku, cukup kesulitan juga aku mengulum penisnya karena batang itu memang besar.</p>
<p>Dia mengocok mulutku dengan penisnya selama beberapa saat, cukup kewalahan juga aku menghadapi kocokannya untung, tidak berlangsung lama. Pak Edwin kembali berada diantara kakiku, disapukannya penisnya ke bibir vaginaku lalu mendorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah penis itu ke vaginaku semua, aku merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam vaginaku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang penis Pak Edwin.</p>
<p>&#8220;ehh.. sshh.. eeghghgh&#8221; aku mulai mendesah ketika Pak Edwin mulai mengocokkan penisnya, dengan cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yang tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada penis yang tidak disunat itu, gesekan pada dinding vaginaku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan malahan menambah pengalaman, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas tubuhku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku.</p>
<p>Pak Edwin menaikkan tubuhnya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, dengan posisi seperti ini aku bisa melihat expresi wajahnya yang kemerahan dibakar nafsu, tampak sekali rona merah diwajahnya karena kulitnya yang putih tipikal orang cina, wajah gantengnya bersemu kemerahan. Kutarik wajahnya dan kucium bibirnya karena gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi tubuhnya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, ternyata itu membuat dia melambung ke atas dan menyemprotlah spermanya di vaginaku, kepala penisnya kurasakan membesar dan menekan dinding vaginaku, denyutnya sampai terasa di bibir vaginaku, lalu dia terkulai lemas setelah menyemprotkan spermanya hingga habis.</p>
<p>Agak kecewa juga aku dibuatnya karena aku bahkan belum sempat merasakan sensasi yang lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari sepuluh menit.<br />
&#8220;sorry aku duluan&#8221; bisiknya di telingaku sambil tubuhnya ditengkurapkan di atas tubuhku.<br />
&#8220;nggak apa kok, ntar lagi&#8221; kataku menghibur diri sendiri, kudorong tubuhnya dan dia rebah disampingku, dipeluknya tubuhku, dengan tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru.<br />
Aku berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan dengan keras untuk menutup kekesalan diriku.</p>
<p>&#8220;I need another cock&#8221; pikirku kalut<br />
Kulihat di HP ada SMS dari Rio dengan pesan &#8220;namanya Rino, akan menghubungi mbak, dari Rio&#8221;<br />
Jarum jam sudah menunjukkan 23:20, berarti cukup lama aku tadi tidak sadarkan diri sampai akhirnya &#8220;dibangunkan&#8221; Pak Edwin, kulihat Pak Edwin sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, dengan postur tubuh yang cukup atletis dan wajah yang ganteng sungguh sayang dia tidak bisa bertahan lama, pikirku.</p>
<p>Kunyalakan Marlboro kedua untuk menurunkan birahiku yang masih tinggi setelah setelah mendapat rangsangan yang tak tuntas, lalu kucuci vaginaku dari sperma Edwin, kalau tidak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Andi menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu karena akan merusak hubungan kerjaku dengannya.<br />
Kulayangkan pandanganku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tidak ada Pak Edwin mungkin sudah kuhubungi Rio untuk segera mengirim Rino kemari, tapi aku jadi nggak enak sama dia.</p>
<p>Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok laki laki tegap dengan wajah ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya.</p>
<p>&#8220;mbak Lily? saya Rino temannya Rio&#8221; sapanya<br />
Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dengan penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang.<br />
&#8220;Sebentar ya&#8221; kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dengan Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis women professional, aku bingung memikirkannya.<br />
&#8220;kudengar ada bel pintu, ada tamu kali&#8221; kata Pak Edwin dari ranjang<br />
&#8220;eh..anu..enggak kok Pak&#8221; jawabku kaget agak terbata<br />
&#8220;jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dengan apa yang baru saja terjadi, panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua&#8221;<br />
&#8220;iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi&#8221; kataku<br />
&#8220;ah nggak pa pa kok, santai saja&#8221; jawabnya ringan.</p>
<p>Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, usia paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.</p>
<p>&#8220;di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu&#8221; kataku pada Rino tegas.<br />
&#8220;Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Lily, aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri&#8221; katanya lalu kupersilahkan masuk.<br />
Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang dengan bertutupkan selimut. Aku jadi canggung diantara dua laki laki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Edwin bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget lalu melihat ke Rino yang hanya dibalas dengan senyuman nakal.</p>
<p>&#8220;wah ngganggu nih&#8221; celetuk Rino<br />
&#8220;ah enggak udah selesai kok&#8221;jawabku singkat<br />
&#8220;baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily&#8221; teriak Edwin dari kamar mandi, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.<br />
&#8220;Rio udah cerita sama aku mengenai mbak&#8221; bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin.</p>
<p>Edwin keluar dari kamar mandi dengan tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.</p>
<p>Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.<br />
Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan tubuhnya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Edwin.</p>
<p>Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.</p>
<p>Mereka merebahkan tubuhku di ranjang, Edwin tetap berkutat di vaginaku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari penisnya.<br />
Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.</p>
<p>Untuk kedua kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok dengan keras hingga penis Rino menyentuh pipiku. Kuremas penis itu ketika Edwin dengan gairahnya mengobok obok vaginaku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati Penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku, meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum penis Rino dengan gairah segairah kocokan Edwin padaku, Rino memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Edwin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku.</p>
<p>&#8220;eegghhmm.. eegghh&#8221; desahku dari hidung karena mulutku tersumbat penis Edwin.<br />
Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluakan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Edwin, dengan mudahnya dia melesakkan penisnya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika penis Rino menyentuhnya. Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk ke dalam mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin.</p>
<p>Ada kenikmatan yang berbeda antara Edwin dan Rino tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Edwin entah kemana dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan.<br />
Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku dengan tubuh sexy-nya lalu kembali dia memasukkan penisnya, dengan sekali dorong amblaslah tertelan vaginaku, dengan cepat dan keras dia mengocokku, penisnya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk aduk isi vaginaku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.</p>
<p>&#8220;eehh..yess..fuck me hard..yess&#8221; desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya. Kulihat Edwin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal penisnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.</p>
<p>Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya disaat saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu. Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Edwin menggantikan posisinya, begitu penisnya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu penisnya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Edwin menghunjam tajam ke vaginaku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Edwin mengocok vaginaku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.</p>
<p>Edwin merasakan kemenangan ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya penisnya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma vaginaku masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu. Sementara kocokan Edwin di vaginaku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan penis Rino yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.</p>
<p>Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku, denyutannya seakan memelarkan vaginaku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Edwin. Tahu bahwa Edwin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.<br />
Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti.</p>
<p>Aku langsung mengocok penisnya dengan gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Edwin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas penis Rino di vaginaku.</p>
<p>&#8220;OUUGGHH.. yess.. yess.. yess&#8221; teriakku<br />
Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, tubuhku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk tubuhku dengan erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku terutama kepala penisnya yang membesar hingga mengisi semua vaginaku.</p>
<p>&#8220;oouuhh..yess..I love it&#8221; teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.<br />
Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang penis di vaginaku itu.<br />
Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.</p>
<p>&#8220;mbak Lily sungguh hebat&#8221; bisiknya pelan di telingaku.<br />
Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.<br />
Akhirnya kami dikagetkan bunyi &#8220;beep&#8221; satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam.<br />
&#8220;Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Edwin kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?&#8221; pintaku<br />
&#8220;Dengan senang hati&#8221; jawabnya gembira, Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.</p>
<p>Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, sementara Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku.Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua laki laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.</p>
<p>Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Rino berusaha memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang dengan posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku, aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas remas buah dadaku. Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari penis Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Edwin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas.</p>
<p>Berbeda dengan kocokan Rino yang pelan pelan, Edwin melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.</p>
<p>Kami terbangun sekitar pukul delapan ketika telepon berbunyi, kuangkat dan ternyata dari Andi.<br />
&#8220;pagi bu, udah bangun?&#8221; tanyanya dari seberang<br />
&#8220;pagi juga Andi, untung kamu bangunin kalau tidak bisa ketinggalan meeting nih, oke kita ketemu di bawah pukul 9, tolong di atur tempat meetingnya, cari yang bagus&#8221; jawabku memberi perintah<br />
&#8220;beres bu&#8221; jawabnya<br />
&#8220;Edwin, aku ada meeting dengan Pak Reza jam 10, kamu bagaimana?&#8221; tanyaku<br />
&#8220;lho meetingnya kan juga sama sama aku&#8221; jawab Edwin<br />
&#8220;oh ya? dia tidak pernah cerita tuh, dia Cuma bilang meetingnya antara aku, dia dan satu orang lagi rekannya&#8221;<br />
&#8220;oke anyway, aku tak mau datang ke tempat meeting dengan pakaian yang sama dengan kemarin&#8221;<br />
&#8220;Ayo mandi lalu kita cari pakaian di bawah&#8221; kataku<br />
&#8220;Rino, kamu boleh tinggal disini atau pergi, tapi yang jelas aku nanti memerlukanmu setelah meeting&#8221; kataku sambil menuju ke kamar mandi menyusul Edwin yang mandi duluan.</p>
<p>Kami berdua mandi dibawah pancuran air hangat, kami saling menyabuni satu sama lain, dia memelukku dari belakang sambil meremas remas buah dadaku dan menjilati telingaku, kuraih penisnya dan kukocok, tubuh kami yang masih berbusa sabun saling menggesek licin, ternyata membuatku lebih erotis dan terangsang. Tanpa menunggu lebih lama kuarahkan angkat kaki kananku dan mengarahkan penisnya ke vaginaku, dengan ketegangannya ditambah air sabun maka mudah baginya untuk masuk ke dalam, Edwin langsung menancapkan sedalam dia bisa. Pancuran air panas membasahi tubuh kami berdua lebih romantis rasanya, tapi itu tak berlangsung lama ketika Edwin menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku, tidak banyak dan tidak kencang memang tapi cukuplah untuk memulai hari ini dengan dengan penuh gairah.</p>
<p>Setelah mandi aku mengenakan pakaian kerja resmi, entah mengapa kupilih pakaian yang resmi tapi santai, mungkin karena terpengaruh perasaanku yang lagi bergairah maka tanpa bra kukenakan tank top dan kututup dengan blazer untuk menutupi putingku yang menonjol di balik tank top-ku, lalu kupadu dengan rok mini sehingga cukup kelihatan resmi, aku merasa sexy dibuatnya.</p>
<p>Kutinggalkan amplop berisi uang di meja dan kucium Rino.<br />
&#8220;Kalau kamu mau mau keluar ada uang di meja, ambil saja ntar aku hubungi lagi, kalau mau tinggal up to you be my guest&#8221; bisikku yang dibalas ciuman dan remasan di buah dadaku.</p>
<p>Pukul 9:15 kami keluar kamar, bersamaan dengan Andi keluar dari kamarnya tepat ketika aku keluar bersama Edwin dan Rino memberiku ciuman di depan pintu, dia menoleh ke arah kami tapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tidak melihat, tapi aku yakin dia melihatnya.</p>
<p>&#8220;Morning Andi&#8221; sapaku<br />
&#8220;eh morning Bu, ruang meeting sudah aku atur dan semua dokumen sudah saya siapkan, copy file-nya ada di laptop ibu&#8221; jawabnya memberi laporan ketika kami menuju lift.<br />
&#8220;Thanks Ndi&#8221; jawabku singkat.</p>
<p>Kami bertiga terdiam di lift, aku yang biasanya banyak bicara mencairkan suasana jadi kaku dan salah tingkah, masih memikirkan apa yang ada di pikiran Andi bahwa aku keluar dari kamar dengan seorang laki laki dan ada laki laki lainnya di kamarku, ah persetan pikirku, saking kikuknya sampai aku lupa mengenalkan Edwin pada Andi. Dalam kebekuan kuamati Andi dari bayangan di cermin lift, baru kusadari kalau sebenarnya Andi mempunyai wajah tampan dan berwibawa, meski umurnya baru 27 tahun tapi ketegasan tampak di kerut wajahnya. Sedikit lebih tinggi dariku tapi karena aku pakai sepatu hak tinggi, maka kini aku lebih tinggi darinya, posturnya tubuhnya cukup proporsional karena dia sering cerita kalau fitness secara teratur 3 kali seminggu, aku baru sadar bahwa selama ini aku nggak pernah melihat Andi sebagai seorang laki laki, tapi lebih kepada pandangan seorang Bos ke anak buahnya.</p>
<p>Diluar dugaan, Andi ternyata memergokiku saat mengamatinya, pandangan mata kami bertemu di pantulan cermin.<br />
&#8220;Ting&#8221;, untunglah lift terbuka, aku segera keluar menghindar dari pandangan Andi, kami langsung breakfast setelah terlebih dulu mencarikan Edwin pakaian dan dasi pengganti, meski Shopping Arcade masih belum buka karena terlalu pagi, tapi dengan sedikit paksaan akhirnya mereka mau juga melayani kami.<br />
&#8220;Eh Bu Lily, saya kok belum dikenalin dengan Mas ini&#8221; Tanya Edwin bersikap resmi, mengingatkanku akan kekonyolanku pagi ini.<br />
&#8220;Oh iya, Andi, ini Pak Edwin, clien dari Pak Reza yang akan menjual produk kita ke Cina yang berarti Clien kita juga, dan nanti Pak Edwin akan gabung dengan kita di meeting&#8221; kataku yang disambut uluran tangan Edwin ke Andi.<br />
&#8220;Pak Edwin, Andi ini salah satu orang kepercayaan saya, dialah yang in charge nanti, meski baru dua tahun ikut saya tapi naluri bisnisnya boleh di uji&#8221; lanjutku memuji Andi, itu biasa kulakukan untuk memperbesar rasa percaya diri anak buah sekaligus supaya<br />
clien lebih confident.</p>
<p>Ini adalah breakfast terlama yang pernah aku alami, serba salah tingkah dan yang pasti aku tak berani memandang Andi, entah mengapa. Untunglah Edwin bisa mencairkan suasana bengan berbagai joke-nya.</p>
<p>Bertiga kami masuk ke ruang meeting yang sudah di booking Andi, ternyata cukup nyaman suasananya, tidak seperti ruang meeting biasa yang kaku dan menjemukan, tapi lebih terkesan bernuansa santai tapi serius, Meeting table bulat dengan dikelilingi 6 kursi putar, sementara dipojokan ada sofa dan meja kecil, di ujung yang lain terdapat tea set lengkap dengan electric kettle.</p>
<p>Aku dan Andi duduk bersebelahan menyiapkan dokumen di meja, kuletakkan laptop di depanku, Pak Edwin duduk di sebelah kiriku.<br />
&#8220;Ndi tolong nyalakan laptop, aku ke toilet sebentar&#8221; kataku sambil meninggalkan mereka berdua. Kuhabiskan sebatang Marlboro di toilet untuk menghilangkan keteganganku dan kurapikan baju dan make up ku.<br />
Pak Reza sudah berada di ruangan ditemani dengan wanita yang muda dan cantik ketika aku kembali ke ruangan meeting.<br />
&#8220;Pagi Pak Reza, pagi Bu&#8221; sapaku sambil menyalami mereka berdua<br />
&#8220;Pagi juga Mbak Lily, anda kelihatan cantik pagi ini&#8221; kata Pak Reza<br />
&#8220;emang selama ini nggak cantik&#8221; jawabku<br />
&#8220;Lily&#8221; sapaku pada wanita di samping Pak Reza sambil mengulurkan tangan<br />
&#8220;Lisa&#8221; jawabnya sambil tersenyum manis<br />
&#8220;bukan begitu, tapi pagi ini lebih cantik dan cerah&#8221;<br />
&#8220;Oh Mbak Lisa, selama ini kita hanya bertemu lewat telepon dan faximile&#8221; kataku lagi<br />
&#8220;dan sekarang inilah dia orangnya&#8221; lanjut Pak Reza.</p>
<p>Ternyata Andi belum menyalakan laptopku, agak marah juga aku melihat dia tidak melaksanakan perintahku, maka dengan mata melotot ke arahnya kuambil kembali laptopku dari hadapannya lalu kunyalakan. Betapa terkejutnya aku ketika laptop itu menyala, tampak di monitor laptopku seorang wanita sedang telentang menerima kocokan di vaginanya sementara mulutnya mengulum penis kedua dan tangan satunya memegang penis ketiga, aku baru tersadar kalau sebelum berangkat dari kantor kemarin sempat membuka koleksi pic yang ada laptop-ku dan karena buru buru mungkin saat mematikan laptop bukan &#8220;shut down&#8221; yang aku pilih tapi &#8220;stand by&#8221;. Mukaku merah dibuatnya, untung tak ada yang memperhatikan, langsung aku &#8220;re-booting&#8221;, kulirik Andi tapi dia menyiapkan document dan tidak memperhatikanku, pantesan dia langsung mematikannya, pikirku. Aku jadi lebih salah tingkah lagi terhadap Andi, tapi segera aku kembali konsentrasi untuk meeting ini.</p>
<p>Meeting dimulai dengan presentasi Andi dan dilakukan tanya jawab, justru yang banyak bertanya adalah Lisa dan itu dilayani dengan cekatan oleh Andi, sementara aku Cuma kadang kadang saja menguatkan pendapat Andi atau membantunya membuat keputusan untuk menerima atau klarifikasi, hal ini kulakukan untuk lebih meyakinkan Lisa maupun Pak Reza disamping untuk memperbesar rasa percaya diri pada Andi. Cukup alot juga pembicaraan antara mereka berdua, tapi aku tak mau mencampuri sebelum dia benar benar kepepet. Aku kagum sama Lisa yang cantik tapi piawai dalam negosiasi.</p>
<p>Setelah masalah teknis dan kontrak selesai sampailah pada masalah harga dan itu adalah tugasku dengan Pak Reza, dengan beberapa alternatif harga yang aku tawarkan akhirnya dicapailah kesepakatan.<br />
&#8220;Ndi, kamu revisi dan di print di Business Center supaya bisa ditandatangani sekarang juga, jangan lupa materei-nya&#8221; perintahku<br />
&#8220;baik bu&#8221;jawabnya lalu dia keluar sambil membawa laptopku dokumen dokumen yang diperlukan.<br />
Kupesan champagne merayakan kerja sama ini ketika Andi sudah meninggalkan ruangan.<br />
&#8220;Selamat Mbak Lily semoga sukses dengan kerja sama kita ini&#8221; Pak Edwin menyalamiku sambil mencium kedua pipiku.<br />
Aku menyalami lalu memeluk Lisa dan menempelkan pipiku padanya.<br />
&#8220;Anda begitu hebat dalam negosiasi&#8221; kataku<br />
Tanpa kuduga dia menjawab berbisik di telingaku.<br />
&#8220;terima kasih, Pak Reza tahu lho apa yang terjadi tadi malam di tempat Ibu&#8221;<br />
&#8220;oh ya? apa itu&#8221;jawabku kaget<br />
&#8220;Pak Edwin menginap di tempat mbak&#8221; katanya pelan mengagetkanku<br />
&#8220;dan satu orang cowok lagi&#8221; lanjutnya<br />
Kulepas pelukannya dan kupandangi Lisa yang masih kelihatan polos itu, lalu pandanganku beralih ke Edwin sebagai protes, tapi dia hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahu saja sambil senyum.<br />
Tak sempat terbengong lebih lama, Pak Reza menyalamiku<br />
&#8220;Selamat atas kerja sama kita&#8221; katanya sambil menyalamiku dan tak kusangka sangka dia menarik tubuhku ke pelukannya<br />
&#8220;I know what you did last night&#8221; katanya sambil mempererat pelukannya dan mengelus elus punggungku.<br />
Aku masih tertegun tak merespon ucapan maupun tindakan Pak Reza, tapi kurasakan buah dadaku tergencet di dadanya saat dia memelukku erat.<br />
&#8220;Pak Reza banyak orang, malu ah&#8221; jawabku pelan<br />
&#8220;banyak orang? ini kan kita kita juga&#8221; jawabnya tanpa melepas pelukannya tapi malah meremas pantatku<br />
Kulirik Pak Edwin, dia hanya bediri di pojok melihat kami, sementara Lisa malah mendekat ke Pak Edwin.<br />
&#8220;Mari kita rayakan kerja sama ini dengan penuh persahabatan&#8221; bisiknya sambil mencium pipi dan bibirku bersamaan dengan tangannya menyingkap rok miniku hingga ke pinggang, aku yakin Lisa maupun Edwin bisa melihat celana dalam model &#8220;Thong&#8221; yang hanya terdapat penutup segitiga kecil di depan, hingga pasti mereka sudah melihat pantatku.</p>
<p>Ciuman Pak Reza sudah sampai di leherku, dilepasnya blazer yang menutupi bagian luarku hingga tampak tank top pink yang kukenakan dibaliknya. Dengan hanya mengenakan tank top, maka tampaklah putingku yang menonjol di baliknya.</p>
<p>Sebenarnya aku bisa saja menolak cumbuan Pak Reza kalau mau, tapi melihat pandangan Pak Reza yang penuh wibawa dan wajahnya yang galak tegas membuat aku takluk dalam pelukan dan ciumannya. Bukan ketakutan masalah bisnis, aku yakin sebagai seorang professional dia bisa membedakan antara bisnis dan pribadi, tapi memang pada dasarnya aku juga mau dicumbunya.</p>
<p>Kulihat Pak Edwin sudah berciuman dengan Lisa sementara tangannya meremas remas buah dada Lisa yang montok itu.<br />
Pak Reza lalu menelentangkan tubuhku di atas meja meeting, disingkapkan rokku dan dari celah celana dalam mini dia mulai menciumi dan menjilati vaginaku dengan gairahnya.</p>
<p>Tiba tiba kami dikagetkan ketukan di pintu, segera aku berdiri dan membetulkan rok miniku dan kuambil blazerku, tapi Pak Reza memberi tanda supaya nggak usah dipakai.<br />
Lisa membuka pintu, ternyata room boy yang mengantar champagne pesananku, Lisa menerima dan menyelesaikan pembayarannya ke kamarku dan dia minta supaya di depan pintu diberi tanda &#8220;DO NOT DISTURB&#8221;, setelah mengunci pintu Lisa membuka dan menuangkan untuk kami.</p>
<p>Pak Reza tak mau kehilangan waktu, begitu pintu ditutup, dia kembali memelukku lalu menurunkan tali tank top ku hingga ke tangan, setelah meremas remas sambil mencium leherku, ditariknya tank topku hingga ke perut, maka terpampanglah buah dadaku di depan semua orang.<br />
&#8220;wow, very nice breast, begitu kencang, I love it&#8221; komentar Pak Reza lalu kepalanya dibenamkan di antara kedua bukit itu sambil tangannya meremas remasnya. Ciumannya dengan cepat berpindah ke puncak bukit dan secara bergantian dia mengulum dari satu puncak ke puncak lainnya. Dengan cepat ciuman Pak Reza turun ke perut dan selangkanganku setelah terlebih dahulu melemparkan tank top ke Edwin dan kembali merebahkan aku di meja meeting, dijilatinya vaginaku dari balik celana dalamku.</p>
<p>Edwin mendekatiku dari atas lalu mencium bibirku dan meremas buah dadaku kemudian mengulum putingnya, sementara jilatan Pak Reza makin menggila di vaginaku, tapi aku tak berani mendesah. Lisa sudah melepas blazernya hingga kelihatan buah dadanya yang montok menantang dibalik kaos you can see ketatnya, dia hanya duduk memperhatikan kami, tak seorangpun menyentuh champagne yang sudah kupesan, ternyata akulah yang menjadi santapan selamat, bukan champagne itu. Disaat aku lagi meregang dalam kenikmatan, kembali kami dikagetkan suara handle pintu dibuka, lalu berganti dengan ketukan.</p>
<p>&#8220;Andi&#8221; teriakku panik aku tak ingin Andi melihatku dalam keadaan seperti ini, akan mengurangi wibawaku dimatanya.<br />
Kudorong kepala Pak Reza dengan halus, aku mencari tank top atau blazerku tapi terlambat, Lisa sudah membuka dengan hati hati pintu itu dan masuklan Andi dengan membawa laptop dan dokumen dokumennya sebelum aku sempat menutupi tubuh atasku.</p>
<p>Kulihat wajah Andi melongo terkaget kaget melihat aku duduk di meja meeting dalam keadaan topless dan kaki di atas kursi, sementara Pak Reza masih jongkok di bawahku dan Edwin ada dibelakangku dengan bertelanjang dada.<br />
&#8220;eh ma..ma..maaf mengganggu&#8221; katanya lalu berbalik ke pintu, tapi Lisa segera menghalangi dan menutup kembali pintu itu.<br />
&#8220;Udah duduk saja di sini&#8221; jawab Lisa sambil menghalangi pintu itu dengan tubuhnya.<br />
&#8220;tapi..tapi ..tapi ini harus ditandatangani&#8221; jawabnya belum sadar dengan apa yang terjadi.<br />
&#8220;nggak ada tapi, tanda tangan mah gampang, sini aku Bantu&#8221; kata Lisa sambil mengambil dokumen dan laptop dari tangan Andi dan meletakkannya di meja pojok ruangan di samping champagne..<br />
&#8220;taruh di sini saja, kamu lihat sendiri kan mereka sedang sibuk&#8221; kata Lisa sambil menarik Andi duduk disebelahnya di sofa.<br />
Kulihat wajah Andi masih melongo kaget melihat bagaimana tingkah lakuku.<br />
&#8220;Sudah terlambat, persetan, apa yang terjadi terjadilah&#8221; pikirku dan kembali telentang di meja menuruti permintaan Pak Reza, dipelorotnya rok mini dan celana dalamku.</p>
<p>Pada mulanya agak risih juga bertelanjang di depan Andi tapi selanjutnya sudah tak kuperhatikan lagi kehadiran Andi di ruangan itu ketika lidah Pak Reza dengan cantiknya kembali menggelitik klitorisku. Edwin membimbing tanganku dan dipegangkan ke penisnya yang sudah tegang, ternyata dia sudah mengeluarkan penisnya dari lubang resliting, tanpa menunggu lebih lama kukocok penis itu.</p>
<p>Pak Reza melepas celana dalamku dan dilemparkannya ke arah Lisa dan Andi, ternyata Lisa sudah duduk di pangkuan Andi dan mereka sedang berciuman.<br />
Pak Reza menarikku duduk di tepi meja, ternyata dia masih berpakaian lengkap, kubantu melepaskan pakaiannya, lalu aku jongkok di depannya, kupelorotkan celananya, ternyata dia tidak memakai celana dalam, dan wow penisnya yang menegang membuatku terpesona, besar dengan guratan otot di batangnya menonjol dengan jelas.</p>
<p>Segera kujilati kepala penisnya dan memasukkan kepala penisnya ke mulutku, kupermainkan dengan lidahku di dalam, tak tahan diperlakukan seperti itu, Pak Reza menaikkanku kembali duduk di meja, disapukannya kepala penis itu ke bibir vaginaku, pelan pelan mendorong hingga masuk semua lalu didiamkannya sejenak, maka melesaklah penis kedua di hari untuk vaginaku. Dia memandangku dengan penuh nafsu, mencium bibirku, lalu mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur mengocok vaginaku, tangannya meraba buah dadaku lalu wajahku dan jarinya dimasukkan ke mulutku, kukulum dan kupermainkan jarinya dengan lidahku.</p>
<p>Pak Edwin mendekat lalu meremas remas buah dadaku, kuraih penisnya yang masih tegang nongol dari lubang resliting dan kukocok seirama kocokan Pak Reza.<br />
Kudengar desahan dari tempat lain, ternyata Lisa sudah semi telanjang di pangkuan Andi sedang mendapat kuluman dan remasan darinya di kedua putingnya, buah dada Lisa yang montok itu hampir menutup wajah Andi yang sedang terbenam di celah celahnya. Melihat hal itu, Pak Edwin meninggalkan kami menuju ke Lisa dan Andi, segera dia mengulum puting Lisa yang merah menantang berbagi dengan Andi, mendapat kuluman dari dua orang, Lisa sepertinya ingin teriak tapi ditahannya dengan menggigit jarinya.</p>
<p>Setelah puas mengocokku dari depan sambil meremas remas buah dadaku, Pak Reza memintaku berbalik, maka aku berdiri membelakangi dia dan tubuhku membungkuk ke depan bertumpu pada meja, kaki kananku kunaikkan di kursi, Pak Reza kembali melesakkan penisnya di vaginaku, dia mengocok dengan kerasnya hingga meja meeting itu begoyang goyang. Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat Lisa sedang duduk di sofa menerima jilatan Andi di vagina mengulum penis Pak Edwin yang berdiri di sampingnya.</p>
<p>Kocokan Pak Reza serasa menggesek semua sisi dinding vaginaku, begitu nikmat hingga aku melayang dibuatnya, ingin aku menjerit karenanya tapi kutahan dengan menggigit bibirku.</p>
<p>Terbuai oleh kenikmatan dari Pak Reza, tanpa kusadari ternyata Lisa, Andi dan Edwin ternyata sudah bergeser ke meja di dekatku hingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Andi mempermainkan klitoris Lisa sambil mengocokkan jarinya, ternyata dia sudah mahir juga, batinku. Sementara Pak Edwin berada di antara aku dan Lisa, sambil mengulum puting Lisa dia meremas buah dadaku.</p>
<p>Terkaget aku ketika melihat Andi mengusapkan penisnya di vagina Lisa, ternyata penis Andi begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Reza apalagi Pak Edwin, mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk penis favoritku.<br />
Sepertinya dia kesulitan memasukkan penis besarnya ke vagina Lisa, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski vagina Lisa sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Lisa sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an. Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Andi berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili penisnya ke dalam vagina Lisa. Sementara kocokan Pak Reza juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam vaginaku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.</p>
<p>Andi mulai mengocok Lisa dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Lisa, dia kelojotan menerima kocokan Andi meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Lisa Andi mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Lisa makin kencang, sekencang kocokan Andi padanya.<br />
&#8220;Aaauughh..eeghh..ss&#8221; teriak Lisa tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andi.<br />
&#8220;sstt&#8221; bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.</p>
<p>Andi mengocok Lisa dengan penuh gairah nafsu, buah dada Lisa yang besar bergoyang goyang liar seiring dengan kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Edwin yang sepertinya nggak rela membiarkan buah dada itu bergoyang sendirian.</p>
<p>Kokocakan Pak Reza sungguh bervariasi, baik kecepatan, arah maupun goyangannya, sungguh trampil dia dalam bercinta, membuatku panas dingin dibuatnya.<br />
Setelah puas mengocokku, Pak Reza menarik keluar penisnya, dan digantikan dengan Pak Edwin mengocokku. Aku berjongkok di kursi dan tanganku bersandarkan sandaran kursi hingga Pak Edwin mengocokku dengan doggie style dengan tetap menghadap ke Lisa dan Andi dan juga Pak Reza yang kini berdiri di sisi Andi menunggu giliran sambil meremas dan mengulum buah dada Lisa yang montok manantang itu menggantikan posisi Pak Edwin.</p>
<p>Andi mengocok Lisa makin ganas, dengan satu kaki terangkat di pundaknya sedang satu kaki lagi dipegang tangannya dengan posisi terpentang pasti penis Andi melesak masuk ke vagina Lisa hingga menyentuh dinding terdalamnya, dengan disertai dorongan yang keras pasti Lisa sudah terbang ke awang awang kenikmatan.<br />
Andi lalu memiringkan tubuh Lisa hingga dia menghadap ke arahku, lalu dia kembali mengocoknya dengan keras, buah dada Lisa ikut bergoyang goyang seirama kocokan Andi. &#8220;gila hebat juga ini anak&#8221; batinku.</p>
<p>Kocokan Pak Edwin tak terlalu kuperhatikan karena setelah mendapatkan Pak Reza punya Pak Edwin tidaklah terlalu berasa meski aku bisa menikmati sedikit kenikmatan yang berbeda, dengan melihat bagaimana Andi memperlakukan Lisa aku bisa dengan cepat bergairah kembali, maka kugoyangkan pantatku melawan gerakan Pak Edwin, secepat kocokan Andi pada Lisa, aku begitu horny dibuatnya, sambil berharap supaya Andi tidak orgasme di vagina Lisa terlebih dahulu supaya aku bisa menikmati semprotan pertamanya.</p>
<p>Sambil menunggu giliran yang belum juga diberikan Andi, Pak Reza menggapai buah dadaku dan tangan satunya meremas buah dada Lisa yang lebih montok seolah hendak membandingkan, kedua tangannya meremas dua buah dada yang berlainan bentuk dan ukuran.</p>
<p>Aku sudah khawatir cemas kalau ternyata Andi menyemprotkan spermanya di vagina Lisa terlebih dahulu, karena sudah cukup lama dia mengocokkan penisnya ke vagina Lisa, sudah setengah jam lebih.<br />
&#8220;gila kuat juga si Andi ini&#8221; batinku.</p>
<p>Kini Andi mengocok Lisa dengan posisi doggie di atas kursi, meniru posisiku hingga kami saling berhadapan, buah dada Lisa yang besar menggantung dan bergoyang dengan indahnya ketika Andi mengocoknya, Pak Reza yang masih menunggu giliran dari Andi duduk di meja antara kami, hingga kami bisa mengulumnya secara bersamaan antara kuluman dan jilatan. Lisa mengulum maka aku menjilati sisanya begitu juga sebaliknya, dua lidah di satu penis.</p>
<p>Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dua wanita cantik seperti aku dan Lisa membuat Pak Reza merem melek, tangannya meremas rambutku juga rambut Lisa. Sepertinya Lisa sudah bisa merasakan nikmatnya penis Andi yang besar itu hingga dia bisa membagi konsentrasi dengan kuluman pada penis Pak Reza.</p>
<p>Andi menghentikan kocokannya dan menyerahkan Lisa ke Bos-nya dan mereka bertukar tempat, Andi mengganti posisi pada mulut Lisa setelah terlebih dahulu memutar kursi Lisa menjauh dariku, kecewa juga aku dibuatnya karena tidak bisa menikmati penis Andi itu, ingin minta tapi masih ada perasaan segan atau gengsi. Masih bisa kulihat dengan lebih jelas betapa nikmatnya penis Andi itu hingga Lisa mengulum dengan ganasnya meski tak bisa memasukkan semuanya.</p>
<p>Aku yakin Lisa kurang bisa menikmati Pak Reza setelah merasakan penis Andi. Kocokan Pak Edwin tidak kuperhatikan lagi, tapi aku lebih menikmati kuluman Lisa pada penis Andi itu meski Pak Edwin mulai melakukan variasi gerakannya, tangannya mengelus punggung dan buah dadaku, dia lalu memutar kursi hingga Aku dan Lisa berjejer, tapi Andi malah menggeser tubuhnya ke sisi lain malah menjauhiku.</p>
<p>Pak Reza meremas buah dadaku sambil mengocok Lisa, sementara Pak Edwin meremas buah dada Lisa sambil mengocokku dan Andi meremas remas buah dada montok yang satunya dari sisi lainnya, kini Lisa mendapat servis dari tiga orang, sementara aku menginginkan Andi tapi dia selalu menghindariku sepertinya dia segan menyentuhku.</p>
<p>&#8220;come on Andi, satu remasan atau satu kuluman saja darimu, I need you&#8221; jerit batinku tapi kembali rasa gengsi sebagai Bos terhadap dia masih tinggi. Andi berciuman dengan Lisa sambil tangannya tetap meremas buah dadanya, aku iri melihatnya, bahkan ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukar tempat, Andi tetap tak mau beranjak ke arahku. Kembali aku mendapat kocokan dari Pak Reza, oh much better than before, kurasakan kenikmatan kembali dari Pak Reza, ouh betapa nikmatnya sodokan dan kocokan beliau jauh lebih nikmat dibanding dengan Pak Edwin tadi, kini aku kembali tenggelam dalam kenikmatan birahi. Tapi itu tak berlangsung lama ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukaran tempat lagi, hingga tiga kali.</p>
<p>Tak lama kemudian ketika Pak Reza sedang keras kerasnya menyodokku, kembali aku dibuat iri pada Lisa saat Pak Edwin dan Andi bertukar tempat, Lisa sudah mendapat kocokan Andi untuk kedua kalinya, kepalanya mendongak dan tubuhnya menggeliat ketika Andi memasukkan kembali penisnya tapi tak lama setelah itu dia sudah mulai mengulum penis Pak Edwin. Pak Reza kembali meremas remas buah dada Lisa sambil mengocokku tapi Andi tak mau melakukan hal itu padaku, dia tetap serius mengocok Lisa sampai berulang kali dia menggeliat ketika Andi mengocoknya dengan keras. &#8220;Lisa sudah mendapatkan tiga penis, di mulut maupun vagina, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku&#8221; teriak batinku.</p>
<p>Kupandangi wajah Andi ketika mengocok Lisa begitu ganteng dan cool, expresinya tidak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang menetes membasahi tubuhnya yang atletis itu sehingga makin sexy. Belum sekalipun Andi menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.</p>
<p>Kuhibur diriku dengan berkonsentrasi pada kocokan Pak Reza, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Andi, maka kugerakkan pinggangku mengimbangi Pak Reza dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke vaginaku dengan kencangnya, kurasakan denyutan yang keras dari penisnya di dalam vaginaku seakan menghantam dinding rahimku. Bersamaan dengan semprotan Pak Reza, ternyata Pak Edwinpun menyemprotkan spermanya di muka Lisa, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, wajah dan sebagian ke rambutnya.</p>
<p>Pak Reza menarik penisnya yang sudah lemas begitupun dengan Pak Edwin, aku belum mencapai orgasme, hanya satu penis yang masih berdiri yaitu Andi, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.<br />
Kuhampiri Andi yang sedang menyocok Lisa, dari belakang kupeluk dia hingga tubuh telanjangku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus dadanya yang bidang berbulu. Sesaat dia menghentikan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan kembali dengan lebih keras.</p>
<p>Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil mengelus kantung bolanya, Andi masih tetap tak mau menyentuhku malah makin cepat mengocok Lisa, maka kupegang tangannya dan kuletakkan di buah dadaku, kugosok gosokkan, barulah dia mulai merespon dengan remasan halus tanpa berhenti mengocok Lisa, lalu kucium bibirnya, tanpa kuduga dia langsung memegang kepalaku dan diciumnya bibirku dengan penuh gairah, full of passion, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Andi memang menginginkanku tapi tidak berani.</p>
<p>Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak menghentikan kocokan pada Lisa, lalu turun ke leherku sebagai sasaran selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.<br />
Dengan penuh nafsu dan dengan liarnya dia mengulum, menjilat, menyedot dan meremas remas puting dan buah dadaku. Ouuhh aku menggeliat dalam kenikmatan yang indah.</p>
<p>Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Lisa yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dengan hebatnya, terlihat badannya bergetar hebat dan kepalanya digoyang goyangkan seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian tubuhnya melemas di atas kursi dengan napas terputus putus. Bersamaan dengan ditariknya penis dari vagina Lisa, dia mendorong tubuhku ke bawah lalu disodorkannya penis besar itu ke wajahku, agak ragu sejenak tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama kukulum juga penis anak buah kepercayaanku itu, seperti dugaanku ternyata aku tak mampu mengulum penis itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari vagina Lisa tercium olehku tapi tak kupedulikan, Andi memegang kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku dengan liar, hampir aku tak bisa bernafas.</p>
<p>Lisa sudah duduk di antara Pak Edwin dan Pak Reza, kemudian Andi memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih penis besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir vaginaku dan kuarahkan masuk, ternyata Andi tak mau terlalu lama bermain main di luar, dengan keras di sodoknya penis besar itu masuk ke vaginaku.</p>
<p>&#8220;OOUUGGHHh&#8221; teriakku spontan lalu kututupi mulutku dengan tangan sambil melotot ke arahnya.<br />
Vaginaku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan tubuhku, tapi Andi seperti tak peduli, langsung mengocokku dengan cepat dan keras, kurasakan penisnya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di vaginaku, begitu nikmat hingga seakan aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tangannya meremas dengan keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dengan ganasnya.</p>
<p>Begitu liar dan ganas dia mencumbuku seakan menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seakan mengaduk aduk vaginaku. Kulawan gerakannya dengan menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.</p>
<p>Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga dia memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera dia menyetubuhiku, tubuh atletisnya menindih tubuhku sambil pantatnya turun naik mengocok vaginaku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa sedikitpun bagian yang terlewatkan.</p>
<p>Aku mengagumi kekuatan fisik Andi yang begitu kuat, dinginnya AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh tubuh. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Andi di atas tubuhku.<br />
Selanjutnya kami bergulingan, kini Andi telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya kugoyangkan pantatku mengocok penis Andi, goyanganku kubuat tidak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit bibirnya, dipandanginya wajahku, lalu dia kembali meremas buah dadaku dengan kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Reza sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan penisnya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dengan gairahnya sambil tetap menggoyang pantatku. Pak Reza ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan penisnya di mulutku sambil memegangi kepalaku. Tak mau kalah Andi kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah berpacu meraih kenikmatan birahi.</p>
<p>Andi lalu duduk hingga tubuhku berhadapan dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepas kocokan mulutku pada penis Pak Reza, Andi menjilati seluruh leher dan dadaku, disedotnya putingku dengan keras, kurasakan gigitan gigitan kecil di sekitar buah dada dan putingku tapi tak kuperhatikan.</p>
<p>Akhirnya kurasakan tubuh Andi menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepala penisnya membesar memenuhi rongga dalam vaginaku lalu menyemprotkan spermanya, sementara gigitan dan sedotan di dadaku terasa semakin kuat, denyutannya membuat aku terbang melayang tinggi hingga ke puncak kenikmatan, maka akupun orgasme saat penis Andi sedang berdenyut dengan hebatnya di vaginaku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, tubuhku sudah mulai melemas tapi penis Pak Reza masih di tanganku, maka kukeluarkan kemampuanku untuk segera mengakhiri kemauan Pak Reza sambil masih tetap duduk di atas Andi, tangan Andi masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Reza, tak lama kemudian berdenyutlah penis Pak Reza di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari penis itu, hanya denyutan denyutan ringan hingga melemas dengan sendirinya.</p>
<p>Aku terkulai lemas di atas tubuh Andi, anak buahku itu, dan dia membalas dengan ciuman dan elusan di punggung telanjangku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri menjauhinya, duduk kembali di kursi.<br />
Lisa memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seakan penis Andi masih mengganjal vaginaku.</p>
<p>Baru aku sadari ternyata ada empat titik memerah bekas gigitan Andi pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Andi tapi dia tidak memperhatikan.<br />
Jarum jam menunjukkan pukul 13:30, ketika kami menandatangani kontrak itu dalam keadaan telanjang, sambl memangkuku Pak Reza menandatangani lembaran itu dan di atas pangkuan Pak Reza pula aku menandatanganinya. Sementara Pak Edwin sebagai saksi, ikut menandatangani kontrak itu sambil memangku Lisa yang masih telanjang.</p>
<p>&#8220;Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang&#8221; usul Pak Edwin<br />
Aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Edwin, kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Edwin yang masih bujangan itu.<br />
Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Andi.<br />
Dan selesailah official meeting hari ini.</p>
<p>Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dengan para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.</p>
<p>Setelah makan siang, aku dan Andi mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, Aku dan Andi naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan.<br />
&#8220;Andi apapun yang telah terjadi adalah tidak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua&#8221; kataku pada Andi sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.</p>
<p>Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tidak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.</p>
<p>Aku tidak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dengan Andi terlalu nikmat untuk di tinggalkan. <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cerita-seks/berpacu-dalam-pesta-seks.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak Suli Pembantuku Yang Mulus</title>
		<link>http://bugilgila.com/cerita-seks/mbak-suli-pembantuku-yang-mulus.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cerita-seks/mbak-suli-pembantuku-yang-mulus.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 18:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa ngentot pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[memek pembantu mulus]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu cantik]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu genit]]></category>
		<category><![CDATA[vagina pembantuku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Dengan naik motor aku terburu-buru pulang ke rumah karena tidak kuasa menahan sakit di kakiku saat bermain sepak bola tadi pagi. Mungkin terkilir yang membuat ada bagian yang agak membiru.
15 menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan naik motor aku terburu-buru pulang ke rumah karena tidak kuasa menahan sakit di kakiku saat bermain sepak bola tadi pagi. Mungkin terkilir yang membuat ada bagian yang agak membiru.</p>
<p>15 menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan kaget lho.., badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.<br />
“Kok pulangnya cepat, Mas..?” katanya menyapa.<br />
Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.<br />
“Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola..” kataku membalas.<br />
Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, “Coba Mbak lihat, dia pun menarik celana panjangku agak ke atas, “Sakit nggak..?” tambahnya sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai berjangkok.<br />
“Lumayan juga sih..” kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.<br />
Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya karena roknya tersingkap. Karena posisiku yang yang duduk dan kaki agak ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah mulai bangkit. Dia pun mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang sakit. Mataku juga tidak lepas dari dadanya yang menonjol sebesar mangga.<br />
Dengan perlahan, kuberanikan memegang pahanya di bagian yang tersingkap. Dia agak kaget dan berkata, “Mas, kamu mulai nakal, ya..?” ucapnya sambil melirikku.<br />
“Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!” balasku seadanya.<br />
Lama kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.<br />
“Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!” katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.<br />
“Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!” ucapku terus membujuknya.<br />
Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.<br />
Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, “Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?” kataku menggoda lagi.<br />
“Jangan Mas, Mbak malu..” katanya sedikit ragu.<br />
“Ayo dong Mbak, sekali aja..!” ucapku sedikit membujuk.<br />
Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, “Jangan bilang siapapun ya..?” katanya sambil mengedipkan mata.<br />
Kujawab, “Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja..”<br />
Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.<br />
“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.<br />
Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.<br />
“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.<br />
“Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.<br />
Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?” katanya membalas ucapanku.<br />
“Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.<br />
Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.<br />
“Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.<br />
Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.<br />
“Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?” kataku memberi tawaran gila (he-he-he).<br />
Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.<br />
“Wow.., hmm.., punyamu lebih besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini.” katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.<br />
“Aahh.., ouch.., ouch..” aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.<br />
Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.<br />
“Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.<br />
Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.<br />
“Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!” suaranya mendesah-desah.<br />
Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya untuk pertama kali.<br />
“Ohh.., ahh.., kamu udah keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding vaginanya.<br />
“Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.<br />
Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.<br />
“Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?” kataku sudah tidak sabaran.<br />
“Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!” katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah dan merekah.<br />
“Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.<br />
Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.<br />
“Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.<br />
Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi puting payudaranya yang mengencang.<br />
“Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!” ucapannya sudah terdengar tidak karuan.<br />
Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.<br />
“Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!” kataku ingin mencoba gaya lain.<br />
“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.<br />
“Mbak menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan Mbak membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.<br />
Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis, he-he-he). Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak kan..?” kataku.<br />
“Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.<br />
“Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.<br />
“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.<br />
Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.<br />
“Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”<br />
Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.<br />
“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!” kataku.<br />
Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.<br />
“Mbak, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.<br />
Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.<br />
Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..” dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.<br />
Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..”<br />
Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.<br />
Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.<br />
“Mbak.., nggak menyesal kan..?” tanyaku.<br />
“Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak.” dia membalasku.<br />
“Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam.” tanyaku sedikit khawatir.<br />
“Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!” jelasnya.<br />
Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.<br />
Dengan sedikit menggoda aku berkata, “Aku suka melihat wanita menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak punya celana dalam putih dan merah muda).”<br />
“Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?” dia bertanya balik.<br />
“Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi..” kataku menggoda nakal.<br />
“Kamu nakal sekali..!” katanya sambil mencoba mencubitku.<br />
“Tapi Mbak suka kan..?” godaku lagi.<br />
Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.<br />
Setelah kejadian itu, aku merasa ketagihan dengan Mbak Suli. Aku tidak tahu apakah dia ketagihan juga. Sering kali di waktu malam aku menyelinap ke kamarnya yang sengaja tidakdikuncinya, lalu kami pun bergumul di situ sampai kelelahan dan aku pun sering tertidur di situ. Tapi sebelum subuh aku sudah balik ke kamarku, maksudnya biar tidak ketahuan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cerita-seks/mbak-suli-pembantuku-yang-mulus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Cewek Hamil Bugil Menantang</title>
		<link>http://bugilgila.com/cewek-bugil/foto-cewek-hamil-bugil-menantang.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cewek-bugil/foto-cewek-hamil-bugil-menantang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 14:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cewek Bugil]]></category>
		<category><![CDATA[bokep cewek hamil]]></category>
		<category><![CDATA[cewek hamil ml]]></category>
		<category><![CDATA[gadis hamil bugil]]></category>
		<category><![CDATA[hamil bugil]]></category>
		<category><![CDATA[hamil doggy]]></category>
		<category><![CDATA[hamil ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[hamil telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[memek cewek hamil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[
Fantasi cewek hamil yang berpose bugil, bagi yg nafsu silahkan dinikmati. enak aja gitu liat foto cewek hamil bugil apalagi ngentot ml telanjang gaya doggy, pernah ga lu pada ngerasain&#8230; ngentot cewek hamil. ada loh film bokep yg ceweknya hamil dientot oleh mantannya dan juga dibarengi 3 temen mantannya, katanya seh menambah hormon si bayi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img6.uploadhouse.com/fileuploads/5437/5437043b9b7659df4e96cc5890ae58a2feb0be6.jpg"><img src="http://img6.uploadhouse.com/fileuploads/5437/5437043b9b7659df4e96cc5890ae58a2feb0be6.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><br />
Fantasi cewek hamil yang berpose bugil, bagi yg nafsu silahkan dinikmati. enak aja gitu liat <a href="http://bugilgila.com/cewek-bugil/foto-cewek-hamil-bugil-menantang.html">foto cewek hamil bugil</a> apalagi ngentot ml telanjang gaya doggy, pernah ga lu pada ngerasain&#8230; <strong>ngentot cewek hamil</strong>. ada loh film bokep yg ceweknya hamil dientot oleh mantannya dan juga dibarengi 3 temen mantannya, katanya seh menambah hormon si bayi, karena bpak aslinya ejakulasi dini</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cewek-bugil/foto-cewek-hamil-bugil-menantang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Gadis Toket Gede Binal</title>
		<link>http://bugilgila.com/toket-gede/foto-gadis-toket-gede-binal.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/toket-gede/foto-gadis-toket-gede-binal.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 15:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cewek toge]]></category>
		<category><![CDATA[gadis binal]]></category>
		<category><![CDATA[gadis genit]]></category>
		<category><![CDATA[gadis toge]]></category>
		<category><![CDATA[nenen gede]]></category>
		<category><![CDATA[payudara gede]]></category>
		<category><![CDATA[toket gadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[
Foto toket gede dari gadis binal sungguh menabjubkan. Penggemar cewek toge pastinya antusias dengan gambar ini. Cewek dengan ukuran toket yang gede memang bikin nafsu jadi bergejolak, apalagi bisa langsung menikmati susu dan tubuhnya pasti sempurna dah rasanya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20100122212358_avo_05_4b59b4feb515c.jpg"><img src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20100122212358_avo_05_4b59b4feb515c.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p><strong>Foto toket gede </strong>dari gadis binal sungguh menabjubkan. Penggemar cewek toge pastinya antusias dengan gambar ini. Cewek dengan ukuran toket yang gede memang bikin nafsu jadi bergejolak, apalagi bisa langsung menikmati susu dan tubuhnya pasti sempurna dah rasanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/toket-gede/foto-gadis-toket-gede-binal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Cewek Spg Bispak Bugil Telanjang</title>
		<link>http://bugilgila.com/cewek-spg/foto-cewek-spg-bispak-bugil-telanjang.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cewek-spg/foto-cewek-spg-bispak-bugil-telanjang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 17:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cewek SPG]]></category>
		<category><![CDATA[memek spg]]></category>
		<category><![CDATA[spg bispak]]></category>
		<category><![CDATA[spg bisyar]]></category>
		<category><![CDATA[spg bugil]]></category>
		<category><![CDATA[spg mesum]]></category>
		<category><![CDATA[spg ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[spg telanjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[
SPG bugil 17 tahun ngentot di kos &#124; gallery photo model gadis bugil &#8230;
gambar SPG bispak bugil 17 tahun ngentot di kos &#8230; artis bali bareng Bikini bispak bisyar bokep Bugil Cantik Cewek di dugem foto &#8230; 17 tahun, Bugil, gadis, gambar, &#8230;
Info Komunitas Cewek Bispak ABG &#38; SPG Jakarta, Bandung &#38; Surabaya
Info akurat&#8230; buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_tLAFH5lsjIw/Se8LO-rAuII/AAAAAAAAA3k/RpgP9_3ctMY/s400/1_303288092l.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tLAFH5lsjIw/Se8LO-rAuII/AAAAAAAAA3k/RpgP9_3ctMY/s400/1_303288092l.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p>SPG bugil 17 tahun ngentot di kos | gallery photo model gadis bugil &#8230;<br />
gambar <a href="http://bugilgila.com/foto-cewek-spg-bispak-bugil-telanjang.html">SPG bispak bugil</a> 17 tahun ngentot di kos &#8230; artis bali bareng Bikini bispak bisyar bokep Bugil Cantik Cewek di dugem foto &#8230; 17 tahun, Bugil, gadis, gambar, &#8230;</p>
<p>Info Komunitas Cewek Bispak ABG &amp; SPG Jakarta, Bandung &amp; Surabaya<br />
Info akurat&#8230; buat para lelaki hidung belang yang doyan sama Daun Muda &#8230; Tags iklan: ayam kampus, bispak, <a href="http://videobokeps.com">bokep</a>, bugil, cewek, gadis, telanjang &#8230;</p>
<p>CEWEK-BISPAK : TEMPAT BERBAGI INFORMASI CEWEK BISPAK<br />
CEWEK-BISPAK: TEMPAT BERBAGI INFORMASI CEWEK BISPAK &#8230; Bispak cewe cw hp no bugil hotel foto jogja info nomor smu cari spg tante daftar &#8230;</p>
<p>Spg Seksi | Celebsgosip.com<br />
Girls-naked-because-Home-alone-ABG-Mesum—SPG-BISPAK-ARTIS-BUGIL &#8230; hot favorit kami yaitu Gambar CEWE BUGIL TELANJANG BULAT seorang Spg bispak &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cewek-spg/foto-cewek-spg-bispak-bugil-telanjang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Anak Juragan Dan Temannya</title>
		<link>http://bugilgila.com/cerita-seks/ngentot-anak-juragan-dan-temannya.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cerita-seks/ngentot-anak-juragan-dan-temannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 18:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[memek gadis sma]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot abg sma]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot anak majikan]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot gadis]]></category>
		<category><![CDATA[vagina gadis sma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan sebagai sopir aku lakukan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Jelas ini bukanlah pekerjaan idamanku, sebagai seorang mahasiswa pasti juga memiliki cita-cita setinggi langit. Namun tidak kusangka, lewat pekerjaan ini aku mendapatkan pengalaman tak terlupakan dalam hidupku.

Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekerjaan sebagai sopir aku lakukan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Jelas ini bukanlah pekerjaan idamanku, sebagai seorang mahasiswa pasti juga memiliki cita-cita setinggi langit. Namun tidak kusangka, lewat pekerjaan ini aku mendapatkan pengalaman tak terlupakan dalam hidupku.<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/_SxkrBUdOTT4/SsrQ5ltg_fI/AAAAAAAABHE/ifzJTB_5VjU/S220/smu-abg-bugil-cewek-telanjang-smu-ngentot2.jpg"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_SxkrBUdOTT4/SsrQ5ltg_fI/AAAAAAAABHE/ifzJTB_5VjU/S220/smu-abg-bugil-cewek-telanjang-smu-ngentot2.jpg" alt="memek abg sma" width="170" height="220" /></a><br />
Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi.<span id="more-61"></span></p>
<p>Mereka bukan tipeku.<br />
Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18 tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya.</p>
<p>Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.</p>
<p>Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.<br />
&#8220;Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya&#8221;.<br />
&#8220;Eh.., Mas, udah lama nunggu?&#8221;, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.<br />
&#8220;Barusan kok Non..&#8221;, jawabku.<br />
&#8220;Jul.., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih.., ha.., ha..&#8221;, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.<br />
&#8220;Hus..&#8221;, sahut Non-ku sambil tersenyum. &#8220;Jadi malu dia nanti..&#8221;.<br />
Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.</p>
<p>&#8220;Kenalin nih mas, temanku&#8221;, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.<br />
&#8220;Sony&#8221;, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.<br />
&#8220;Niken&#8221;, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.<br />
&#8220;Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar&#8221;, instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.<br />
&#8220;Baik Non&#8221;, jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta.., ahh.</p>
<p>Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan menyuruhku ikut masuk.<br />
&#8220;Saya di luar saja Non&#8221;.<br />
&#8220;Masuk saja mas.., sambil minum dulu.., baru kita pulang&#8221;.<br />
Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.<br />
&#8220;Duduk di sini aja mas&#8221;, kata Niken menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.<br />
&#8220;Ayo jangan ragu-ragu..&#8221;, perintah Non Juliet melihat aku agak ragu.<br />
&#8220;Mulai disetel aja Nik..&#8221;, Non Juliet kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.<br />
Tak lama kemudian.., film pun dimulai.., Wowww.., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro (Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis &amp; Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.</p>
<p>&#8220;Hmm.. Eh&#8221;, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.<br />
Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.<br />
&#8220;Ayo.., hisap dong mas.., ahh&#8221;. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.</p>
<p>&#8220;Ayo, jilatin memekku mas&#8221;, Non Juliet mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.<br />
&#8220;Ohh.., nikmat sekali..&#8221;, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.<br />
&#8220;Aduh, cepetan dong, yang keras.., aku mau keluar.., ehhmm ohh..&#8221;. Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil alih.</p>
<p>&#8220;Biar saya yang buka mas&#8221;, katanya.<br />
Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang sudah tegak, bergelantung ke luar.<br />
&#8220;Ih, wowww..!!&#8221;, desis Non Juliet, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa.., bayangkan.., penisku berwarna hitam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.<br />
&#8220;Punyamu besar sekali Mas Son.., Jul suka.., ehmm..&#8221;, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.</p>
<p>Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.<br />
&#8220;Ayo.., masukkin dong mas.. Jul udah nggak tahan nih..&#8221;, katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.<br />
Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.<br />
&#8220;Ahh.., yeah.., sekarang masukin deh penis Mas yang besar itu di memekku&#8221;, katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.</p>
<p>&#8220;Yah, begitu dong mas&#8221;, Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.<br />
&#8220;Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging.. ya Mas Son..?&#8221;, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.<br />
&#8220;Ayo dong mas.., masukkin dari belakang&#8221;, Non Juliet menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.</p>
<p>Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping, ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.<br />
Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.<br />
&#8220;Ahh.., Mas.., Mas.., Terus dong.., nikmat sekali&#8221;, Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet makin hebat.</p>
<p>Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.<br />
&#8220;Ohh.., terus dong mas.. yang cepat dong ahh.. Jul keluar mas.. ohh..&#8221;, Non Juliet mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.<br />
&#8220;Non.., saya juga hampir keluar..&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Tahan sebentar mas.., keluarin dimulutku..&#8221;, kata Non Juliet.</p>
<p>Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.<br />
&#8220;Ayo, goyang yang keras dong mas..&#8221;, Non Juliet memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.<br />
&#8220;Ayo penisnya taruh di sini mas..&#8221;, kata Non Juliet lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.</p>
<p>&#8220;Oh, nikmat sekali..&#8221;.<br />
Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.<br />
&#8220;Ahh.., Non.., ahh&#8221;, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.<br />
Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.</p>
<p>&#8220;Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya&#8221;, katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.<br />
&#8220;Besok kita ulangi lagi ya mas.., soalnya Niken minta bagian&#8221;.<br />
Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.<br />
Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cerita-seks/ngentot-anak-juragan-dan-temannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ML Dengan Mantan Suami</title>
		<link>http://bugilgila.com/cerita-seks/ml-dengan-mantan-suami.html</link>
		<comments>http://bugilgila.com/cerita-seks/ml-dengan-mantan-suami.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 08:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dessy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mantan suami]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[seks mantan suami]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan mantan suami]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugilgila.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Bisa dibilang ini adalah saat-saat bahagia dalam hidupku, dimana sebentar lagi aku akan menikah dengan lelaki pujaan. Namun, ketika masa lalu  itu kembali menghampiri, aku pun tidak bisa menghindar. Cerita ini adalah pengalamanku yang sebenarnya. Aku mencoba menuliskan dalam cerita seks, karena memang tergolong cerita yang berbau seks dan dewasa. Dan sekali lagi, maaf jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bisa dibilang ini adalah saat-saat bahagia dalam hidupku, dimana sebentar lagi aku akan menikah dengan lelaki pujaan. Namun, ketika masa lalu  itu kembali menghampiri, aku pun tidak bisa menghindar. Cerita ini adalah pengalamanku yang sebenarnya. Aku mencoba menuliskan dalam <a href="http://ceritapanas.telanjangbugils.com/">cerita seks</a>, karena memang tergolong cerita yang berbau seks dan dewasa. Dan sekali lagi, maaf jika penuturanku dalam tulisan ini tidak sopan dengan kata-kata yang tidak tertata.</p>
<p>Pagi jam 9.00 ketika  aku selesai mandi,  terdengar suara telpon  gengamku berbunyi<br />
.<br />
“hallo saying, apa kabar”terdengar suara yang tidak asing lagi dan suara  itu juga membuat aku terkejut.<br />
Ternyata suara itu adalah mantan suamiku, dan arena suadah beberapa  tahun aku tidak berjumpa dengannya, muncul dalam hatiku rasa penasaran  tentang semua informasi mantan suamiku.<br />
“katanya sebentar lagi mau kawin ya?’<br />
Kujawab dengan singkat “ iya”<br />
“ini juga lagi lulur ama timung nih”kataku lagi.<br />
“tumben kamu telpon sam?’ tanyaku<br />
Diseberang telpon sam lama menjawab pertanyaanku.<br />
“May, kamu masih ingat ngga kejadian dulu di sofa ruang tengah kita?”<br />
Aku tetegun dengan pertanyaan Sam, pasti yang Sam maksud adalah waktu  dimana kami pertama kali menjadi pengantin baru, dimana waktu di sofa  ruang tengah tersebut kami melakukan hubungan yang sangat hot dan  vulgar, baik dari blow job maupun doggy style.</p>
<p>“kenapa Sam, sofanya rusak ya”kataku setengah bercanda.<br />
Sam terdiam sejenak atas perkataanku. Kemudian ia menjelaskan<br />
“bukan sofanya yang rusak May, tapi pas kita lagi berhubungan ada yang  motret kita” kata Sam<br />
Deg….hatiku langsung berdetak tak karuan,selanjutnya Sam menjelaskan  lagi bahwa untungnya foto-foto tersebut berhasil ia dapatkan dan sampai  sekarang masih disimpanya.<br />
Segera aku meminta Sam untuk bertemu, tentunya untuk meminta foto  tersebut agar tidak tersebar luas.karena masalah ini kedepanya akan  menggangu rumah tanggaku yang akan segera aku bina kembali.stelah  panjang lebar dan memaksa Sam untuk mengembalika foto tersebut, akhirnya  Sam mau untuk kuajak bertemu, ia mengatakan akan menunggu di rumahnya,  rumahku dulu bersama Sam.hari kamis aku berjanji untuk datang  kerumahnya.</p>
<p>Kamis pagi sesuai dengan janji kami berdua aku dengan di antar sopirku  menuju rumah Sam. Jam 10.00 aku telah sampai di rumah Sam, kuketuk pintu  rumah sam, dan terdengar langkah kaki orang yang sedang menuju ke depan  pintu.<br />
Terlihat Sam muncul di depan pintu dan mempersilahkan aku masuk, namun  sebelum masuk ia mencium pipi kiri dan kananku. Aku hanya terdiam atas  perlakuaannya.sam saat itu hanya memakai piyama, kulihat ia baru selesai  mandi.<br />
Di persilahknnya aku duduk di sofa, ah sofa bersejarah itu ternyata  masih ada”kata ku dalam hati. Sam mepersilahkan aku duduk sementara ia  berjalan menuju kulkas untuk mengambilkan aku minuman.<br />
<a href="http://lh6.google.com/bestchinagirl/Rv-dUnjU1CI/AAAAAAAAFJ4/Nhj1Z7x2oxA/s800/Image_jSpuY1.jpg"><img src="http://lh6.google.com/bestchinagirl/Rv-dUnjU1CI/AAAAAAAAFJ4/Nhj1Z7x2oxA/s800/Image_jSpuY1.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
Segelas fanta merah ia sodorkan kepadaku, setelah itu kami bertukar  kabar tentang diri kami masing-masing. Entah mengapa ketika kami  berbicara satu sama lain perasaan masih bergetar ketika melihat cara ia  berbicara, aku pun teringat di sofa ini kami pernah melakukan hubungan  intim, dimana dulu Sam dengan ganas mencumbu tubuhku dari atas sampai  bawah, payudaraku habis di explorasi oleh lidahnya, apalagi puting  susunya, mulutnya tidak berhenti-henti untuk mengemut puting susunya.  Ketika kutanya kenapa suka sekali mengemut puting susunya, Sam hanya  berkata pendek”enak”dan ketika Sam meminta aku untuk 69.’ugh…saat  seperti itu sungguh berkesan dalam kehidupan sex ku. Ups aku terbawa  akan suasana dulu, ini menyebabkan celana dalam ku menjadi lembab dan  basah, “brengsek…kenapa aku jadi begini”kataku dalam hati.</p>
<p>Supaya tidak terhanyut dengan keadaan, aku menanyakan kembali foto-foto  syur kami yang katanya telah ia simpan.sambil tersenyum Sam menghampiri  aku dan duduk disebelahku. Tanpa rasa curiga aku mengeser dudukku untuk  memberi ruang kosaong bagi sam untuk duduk disebelahku. Terlihat tangan  Sam bergerak menuju bawah meja, dan mengambil sebuah amplop, dan di  angsurkannya kepada ku. Kubuka amplop tersebut, terlihat empat lembar  foto dalam ukuran besar, terkejut aku ketika melihat foto tersebut dan  ada sedikit rasa marah dalam hatiku ketika melihatnya.</p>
<p>Difoto pertama nampak seorang tubuh wanita yang bagian dadanya terlihat  jelas, dan wanita tersebut hanya mengenakan rok kulot dan BH merah yang  tersingkap keatas. Terlihat wanita tersebut  sedang dudukdidepan seorang  laki-laki yang duduk diatas sofa…walau tidak nampak jelas wajah wanita  tersbut namun kupastikan itu adalah aku, karena wajah laki-laki di foto  tersebut sangat kukenal yaitu wajah sam.</p>
<p>Pada foto kedua nampak dari samping seorang laki-laki sedang berjongkok  menghadap ke paha seorang wanita yang sedang mengangkang, nampak wajah  wanita itu sedang merasakan kenikmatan, dan mata wanita itu terpejam,  kutahu pasti wajah wanita itu adalah aku…May.</p>
<p>Foto ketiga nampak punggung wanita yang setengah bugil, hanya mengenakan  rok kulot saja, wanita tersebut duduk di pangkuan seorang laki-laki  yang meringis keenakan. Aku tahu yang duduk di pangkuan laki-laki itu  adalah aku, karena di punggungnya terdapat tanda lahir yang tidak pernah  hilang.</p>
<p>Ketika kulihat foto ke empat, ops aku sungguh terkejut karena di foto  tersebut nampak vulgar, di foto tersebut nampak aku terbaring di sofa  dengan mata setengah terpejam dan tangan sedang memegang kemaluan lelaki  yang terlihat keras, mulutku setengah terbuka, dan nampak terlihat di  sekitar wajahku ada bekas cairan cairan putih dan agak kental, siapapun  yang melihat foto ini pasti berkesimpulan bahwa laki-laki itu baru  melepaskan cairan kenikmatannya.</p>
<p>Aku merasa marah sekali kepada Sam, jelas sekali foto-foto tersebut di  buat tanpa sepengetahuanku, Sam hanya mengiyakan dan menjelaskan bahwa  foto – foto tersebut di ambil melalui lubang angin pintu kamar Pras,  keponakan Sam. Dan Sam pun mengatakan yang mengambil foto tersebut  adalah Prsa keponakan Sam, itupun tanpa sepengatahuan Sam dan Aku.  Kemarahanku menyurut keteka Sam menjelaskan dan merayuku agar aku tidak  emosi, yang penting sekarang foto dan masternya sudah ditangan Sam.</p>
<p>&#8220;May, maafkan saya ya. Sungguh aku tidak tahu ketika Prsa mengambil foto  kita waktu kita lagi bercinta, bukan maksud ku untuk mengkoleksi foto  kita waktu kita sedang bercinta “ kata Sam mencoba merayuku</p>
<p>&#8220;Ya sudahlah, jangan kita perpanjang lagi, sekarang kamu sudah kawin,  aku juga sebentar lagi mau kawin.&#8221;kataku kepada Sam<br />
&#8220;Sekarang foto-fotonya aku bawa ya..&#8221; aku ingin cepat-cepat meninggalkan  Sam, karena sejujurnya ternyata getar-getar perasaannya rupanya masih  ada. Aku kaget ketika Sam merangkul pundak aku, ditatapnya mataku dengan  pandangan yang aneh. Katanya,<br />
&#8220;Hanya tinggal itu kenang-kenangan saya. Jadi gimana?&#8221; Tanya ku agak  bingung.<br />
&#8220;Kasih saya sesuatu sebagai penggantinya, saya ingin mengulangi apa yang  dulu pernah kita lakukan.&#8221;<br />
Aku  terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Apapun yang terjadi  foto-foto ini harus ku dapatkan.<br />
Tiba-tiba ada rasa hangat di bibir Aku, ternyata Sam telah mencium  bibirku. Lalu sebelum Aku sempat berontak untuk melepaskan diri, lelaki  itu telah erat-erat merangkul tubuhku. Perlawanan Aku juga tidak  berlangsung terlalu lama. Keinginan mengamankan foto-foto itu, pengaruh  dari melihat adegan pada foto-foto tersebut, dan sisa perasaan Aku  terhadap Sam akhirnya mendorongnya untuk membalas ciuman Sam. Ketika  tangan Sam menuntun tangan Aku ke pangkal pahanya, Aku merasa gairahnya  mulai memuncak. Tangan Aku menyusup memasuki celana dalam Sam, dan  langsung memegang batang kejantanannya yang besar, keras, dan tegang  itu. Begitu juga sewaktu tangan Sam menarik kepala Aku ke arah  kepunyaannya, dengan tanpa ragu Aku merosot celana dalam Sam.</p>
<p>Kenangan dari masa lalu membuat Aku seolah-olah lupa diri.  Setidak-tidaknya begitulah pengakuanlu. Aku menciumi dan menjilati  kepunyaan mantan suamiku. Lalu seperti dulu kukulum ujung kepala  kejantanan Sam. Bahkan aku biarkan Sam mendorong kemaluannya masuk ke  dalam mulutku. Rongga mulut Aku terasa penuh sesak, dan nafasku pun  menjadi tersengal-sengal.</p>
<p>Sementara Aku sedang melakukan itu semua, Sam telah melepas baju  piyamanya, lalu mulai melepas baju atas Aku. Tetapi Aku menolak ketika  Sam ingin melepas rok bawahanku. Lama juga mulut Aku mencumbu alat  kejantanan Sam, hingga akhirnya ia mulai mendekati titik klimaksnya.<br />
&#8220;May, sayang, aku hampir nih, kamu siap ya!&#8221;<br />
Aku hanya bisa bergumam mengiyakan. Lalu Sam menelentangkan Aku di  sepanjang sofa maksiat itu, dan menempatkan barang kerasnya tepat di  atas wajah aku. Rupanya ia ingin mengulangi adegan di foto yang baru  saja Aku lihat. Aku memegang kepunyaan Sam lalu aku kocok-kocok, sambil  mulutku mengemut-emut ujung kepalanya yang bulat keras. Rasanya aneh dan  sekaligus menyenangkan. Ketika air mani kental menyembur dari alat  kejantanan Sam Akupun membiarkannya memenuhi mulutku. Lalu aku emut  daging keras Sam, sambil menelan air siramannya.</p>
<p>Setelah kutuntaskan tugasku, beberapa tetes cairan dari kemaluan Sam  kubiarkan jatuh di atas pipi dan bibirku. Persis seperti dulu.<br />
&#8220;Puas Sam?&#8221; Tanya Aku kepadanya.<br />
&#8220;Aduh May, ini yang selama ini aku kehilangan,&#8221; lalu tanyanya, &#8220;boleh  sering-sering nggak?&#8221; Sambil tersenyum Aku menggelengkan kepalanya,  kemudian aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk berkumur dan  membersihkan diri..</p>
<p>Sementara Aku sedang membersihkan diri di kamar mandi, tiba-tiba Sam  masuk dalam keadaan bugil. Dirangkulnya Aku dan diremas-remasnya seluruh  tubuhku. Karena sedang membasuh diri otomatis Aku berada dalam keadaan  hampir sebugil dia.</p>
<p>Rupanya hal ini membangkitkan gairah Sam. Tanpa berkata apa-apa lagi,  digelandangnya Aku ke tempat tidur di ruangan dalam.<br />
&#8220;Sam, kalau yang ini jangan dong,&#8221; pinta Aku dengan nada memelas. Dia  menatap Aku dan bertanya,<br />
&#8220;Memangnya sampai sekarang belum pernah juga ya?&#8221;<br />
Mengerti apa yang dimaksud, Aku menjawabnya,<br />
&#8220;Ya udah, tapi kan sebentar lagi aku kawin.&#8221;<br />
Dengan nada enteng Sam hanya menanggapi,<br />
&#8220;Kalau belum sampai kawin, ya masih milik umum dong.&#8221;<br />
&#8220;Sialan si Sam,&#8221; umpat Aku dalam hatinya.</p>
<p>Didudukkannya Aku di sisi ranjang dan disodorkannya alat kejantanannya  kepadaku. Tanpa disuruh lagi langsung Aku mengemut-emutnya, mulanya  asal-asalan tapi lama-kelamaan dengan penuh gairah. Akibatnya dalam  tempo singkat barang kepunyaan Sam sudah menjadi besar dan keras seperti  sedia-kala. Ditelentangkannya Aku di tempat tidur, lalu ia naik ke  atasnya dan mulai memasukkan batang kerasnya ke dalam kemaluan Aku. Tapi  rupanya Sam ingin menggoda Aku dulu. Ditahan-tahannya kemaluannya itu  sehingga tidak sepenuhnya masuk, sambil digosok-gosoknya di bibir  kepunyaan Aku. Aku merasa kegelian sekali. Karena tidak tahan akhir Aku  merangkul pantat Sam dan menekannya keras-keras ke bawah.</p>
<p>Sam tertawa, Aku merintih. Sam mengerang, Aku menjerit kecil. Sam  mengganas, Aku hanya mampu mendesah menyebut-nyebut namanya. Sempat  terpikir oleh Aku kalau tahu enaknya seperti ini mungkin sudah dari dulu  akan diserahkannya semua untuk Sam. Pada puncak pengalaman di hari itu  Sam melepas semburan air maninya ke dalam liang rahim Aku. &#8220;Aduh Sam  enak sekali,&#8221; hampir Aku melolong keras karena kenikmatan yang aku  rasakan.</p>
<p>Setelah menikmati diriku,  sikap Sam menjadi agak berubah. Tidak lagi  semesra dan semanis sebelumnya. Tapi Aku tidak mengacuhkannya. Karena  setelah hari ini tentunya Aku tidak punya rencana untuk bertemu lagi  dengan dirinya. Sebelum meninggalkan Rumah Sam, dengan membawa foto-foto  celaka itu, teringat oleh Aku untuk meminta Masternya<br />
&#8220;Waduh, sebentar May , aku lupa menaruhnya,&#8221; jawab Sam dengan gaya  seenaknya.<br />
Aku meminta Sam untuk mencarinya, sambil menunggu Sam. Aku telpon calon  suamiku mennyakan kabar dan keadaanya.<br />
“ini may masternya” kata Sam, sambil mengangsurkan master tersebut  kepadaku<br />
.aku pun menerimanya.<br />
“bener semuanya sudah kamu kasihkan kesaya Sam?’tanya ku kurang yakin.<br />
“bener May, paling kalo aku ada simpan copy fotonya aku minta jatah lagi  ama kamu may” kata Sam sambil tersenyum tipis.<br />
“awas kalo ada lagi,aku bener-bener marah dan akan aku laporkan ke polis  nanti”kataku mengancam.<br />
Sam hanya tertawa pendek, dan aku pun cepat-cepat keluar dari rumah  terkutuk tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugilgila.com/cerita-seks/ml-dengan-mantan-suami.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
